Teman, beberapa pekan lalu istri saya mencari sekolah untuk Anak tunggal kami yang kebetulan sekarang masih duduk di PlayGroup. Tahun ini anakku mau masuk Taman Kanak-kanak. Mungkin sama seperti yang Anda lakukan bertanya soal kualitas pendidikan di sekolah tersebut dan membandingkannya dengan Rupiah yang harus kita keluarkan.
Ternyata, Wow luar biasa, tak ada sekarang sekolah yang murah. Mahal semuanya....!!! Ini termasuk juga sekolah yang menurut penilaian kami tak terlalu istimewa. Saya sadar, untuk menyekolahkan anak butuh persiapan dan perencanaan yang matang. Karenanya, saya mo berbagi dengan teman-teman, bagaimana kita menyiapkan kebutuhan yang sangat penting ini.
Kita sangat menyadari kalau anak kita adalah aset penting dalam hidup kita. Menjadi tanggungjawab kita sebagai orang tua untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Kita sadar, untuk mendapatkan pendidikan yang baik, kita harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan trendnya, dari tahun ke tahun terus meningkat. Saya pernah membaca dalam sebuah artikel tentang inflasi pendidikan ini, di negara maju kecenderungannya naik 20% per tahun dan di negera kita anatara 10% hingga 15%. Hal inilah yang banyak dikeluhkan orang tua, padahal anak harus mendapatkan pendidikan yang layak sebagai bekal hidupnya kelak.
Tapi jangan berkecil hati, Insya Allah dana pendidikan anak bisa lho dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Tentunya semakin dini semakin baik. Karena hal ini akan semakin menjamin terkumpulnya dana pendidikan anak kita. Tapi, jangan juga kita yang belum mempersiapkannya merasa ketinggalan dan pesimis menatap masa depan pendidikan anak kita. Masih ada waktu, karena tak ada istilah terlambat. Saatnya sekarang kita melakukan Financial Planing yang lebih baik. Caranya bagaimana, Insya Allah dalam tulisan saya berikutnya yaa... Saya janji untuk menjelaskan sejelas mungkin.
Rabu, 14 Januari 2009
Minggu, 11 Januari 2009
Tragedi Kemanusian Tak Terlupakan
Teman....
Hari-hari indah kita sedang dicemari oleh pemberitaan massif tentang tragedi kemanusian yang amat memilukan. Pembantaian yang amat luar biasa, pembantaian anak manusia atas nama memerangi "terorisme". Sungguh memalukan apa yang sedang kita saksikan ini. Sebab, seluruh masyarakat dunia sedang mengkampanyekan apa yang kita sebut "Humanright" & "demokrasi". Tapi, dihadapan kita dan ratusan juta anak-anak yang belajar dari kita sebuah perlakuan yang amat memalukan. Perlakuan yang bertentangan dengan hak asasi manusia, perlakuan yang bertentangan dengan semangat domokrasi yang kita gaungkan dan agungkan.
Bagaimana mungkin ini bisa ditolelir.....????
Atas nama memerangi "teroris" Gaza dobombardir oleh jutan ton bom yang tidak saja meluluhlantahkan rumah sipil, tapi juga tempat ibadah, rumah sakit bahkan yang tak kalah hebatnya adalah bom itu telah mengakhiri anak-anak Palestina yang hebat. Anak-anak Palestina yang "luar biasa". Kalaupun anak Palestina tidak terbunuh tapi bom-bom itu telah membunuh masa depan anak-anak palestina. Karena trauma yang luarbiasa telah merasuki otak dan pikiran bocah palestina yang malang.
Sahabat,....
Akankah ini terus berlangsung. apakah masih kurang korban yang telah berjatuhan untuk menyadarkan mereka yang durjana. Ayo sahabat mari kita hentikan agressi israel tersebut. Ayo sahabat tunjukkan kepedulian kita dengan mendesak lembaga-lembaga dunia untuk lebih proaktif menyetop agressi israel ini.
Hari-hari indah kita sedang dicemari oleh pemberitaan massif tentang tragedi kemanusian yang amat memilukan. Pembantaian yang amat luar biasa, pembantaian anak manusia atas nama memerangi "terorisme". Sungguh memalukan apa yang sedang kita saksikan ini. Sebab, seluruh masyarakat dunia sedang mengkampanyekan apa yang kita sebut "Humanright" & "demokrasi". Tapi, dihadapan kita dan ratusan juta anak-anak yang belajar dari kita sebuah perlakuan yang amat memalukan. Perlakuan yang bertentangan dengan hak asasi manusia, perlakuan yang bertentangan dengan semangat domokrasi yang kita gaungkan dan agungkan.
Bagaimana mungkin ini bisa ditolelir.....????
Atas nama memerangi "teroris" Gaza dobombardir oleh jutan ton bom yang tidak saja meluluhlantahkan rumah sipil, tapi juga tempat ibadah, rumah sakit bahkan yang tak kalah hebatnya adalah bom itu telah mengakhiri anak-anak Palestina yang hebat. Anak-anak Palestina yang "luar biasa". Kalaupun anak Palestina tidak terbunuh tapi bom-bom itu telah membunuh masa depan anak-anak palestina. Karena trauma yang luarbiasa telah merasuki otak dan pikiran bocah palestina yang malang.
Sahabat,....
Akankah ini terus berlangsung. apakah masih kurang korban yang telah berjatuhan untuk menyadarkan mereka yang durjana. Ayo sahabat mari kita hentikan agressi israel tersebut. Ayo sahabat tunjukkan kepedulian kita dengan mendesak lembaga-lembaga dunia untuk lebih proaktif menyetop agressi israel ini.
Rabu, 10 Desember 2008
Lima Tahun Pernikhanku
Sahabatku,
Tak terasa 5 tahun sudah perjalanan bahtera rumah tanggaku beralayar.
Susah, senang telah menyertai perjalanan pernikahanku. Aku sangat bersyukur karena sebagian besar hidupku kerasai sebagai sesuatu yang menyenangkan saja. Ini karena memang sesulit apapun aku harus merasakannya sebagai nikmat yang harus disyukuri.
Rahasia kebahagian rumah tangga kami adalah karena rasa syukur ini selalu mendapatkan tempat istimewa di hati kami berdua. Rasa syukur inilah yang selanjutnya mendorong energy positif dalam hidup kami. Hidup yang harus dijalani untuk memberikan kemanfaatan kepada sebanyak mungkin kepada orang lain.
Sahabatku,
Tahukah engkau, apa yang kami alami dalam hari-hari yang telah kami jalani senantiasa berupa kenikmatan dan kebahagian. Padahal, kami menyaksikan berapa banyak teman kami yang (mohon maaf: lebih kaya secara financial dari kami ternyata kekayaannya itu tak membawanya bahagia). kami tidak memiliki banyak uang, tapi kami merasa apa yang kami butuhkan selalu Allah berikan. Apa yang kami minta juga selalu diberikan Allah. Dan yang amat membahagiakan kami, kami bisa berbagi dengan banyak orang. Tentu melayani orang sesuai dengan apa yang kami miliki.
Teman.....
Kami merasa apa yang kami cita-citakan selama 5 pernikahan kami ini. Alhamdulillah bisa terwujudkan. Mulai dari masalah uang, rumah, sekolah terbaik untuk anak, pengembangan pendidikan pribadi, dan masalah lainnya. alhamdulillah semuanya dapat kami penuhi. Tentu ini menjadi kebahagian kami berdua. kebahagian yang membuat kami makin bersyukur.
Teman, kami hanya ingin berbagi kepada kalian. Apapun yang kita hadapi hari ini dalam rumah tangga kita syukurilah. karena dengan bersyukur kita akan menjadi besar, kuat dan optimis menjalani kehidupan "berumahtangga". Bukankah Allah akan menambah kenikmatan orang-orang yang bersyukur.
Tak terasa 5 tahun sudah perjalanan bahtera rumah tanggaku beralayar.
Susah, senang telah menyertai perjalanan pernikahanku. Aku sangat bersyukur karena sebagian besar hidupku kerasai sebagai sesuatu yang menyenangkan saja. Ini karena memang sesulit apapun aku harus merasakannya sebagai nikmat yang harus disyukuri.
Rahasia kebahagian rumah tangga kami adalah karena rasa syukur ini selalu mendapatkan tempat istimewa di hati kami berdua. Rasa syukur inilah yang selanjutnya mendorong energy positif dalam hidup kami. Hidup yang harus dijalani untuk memberikan kemanfaatan kepada sebanyak mungkin kepada orang lain.
Sahabatku,
Tahukah engkau, apa yang kami alami dalam hari-hari yang telah kami jalani senantiasa berupa kenikmatan dan kebahagian. Padahal, kami menyaksikan berapa banyak teman kami yang (mohon maaf: lebih kaya secara financial dari kami ternyata kekayaannya itu tak membawanya bahagia). kami tidak memiliki banyak uang, tapi kami merasa apa yang kami butuhkan selalu Allah berikan. Apa yang kami minta juga selalu diberikan Allah. Dan yang amat membahagiakan kami, kami bisa berbagi dengan banyak orang. Tentu melayani orang sesuai dengan apa yang kami miliki.
Teman.....
Kami merasa apa yang kami cita-citakan selama 5 pernikahan kami ini. Alhamdulillah bisa terwujudkan. Mulai dari masalah uang, rumah, sekolah terbaik untuk anak, pengembangan pendidikan pribadi, dan masalah lainnya. alhamdulillah semuanya dapat kami penuhi. Tentu ini menjadi kebahagian kami berdua. kebahagian yang membuat kami makin bersyukur.
Teman, kami hanya ingin berbagi kepada kalian. Apapun yang kita hadapi hari ini dalam rumah tangga kita syukurilah. karena dengan bersyukur kita akan menjadi besar, kuat dan optimis menjalani kehidupan "berumahtangga". Bukankah Allah akan menambah kenikmatan orang-orang yang bersyukur.
Kamis, 25 September 2008
Universitas Kehidupan di Meja Makan
Hidup di kota besar seperti di Jakarta, bagi sebagian kita sungguh seperti dikejar-kejar. Waktu seperti ‘meneror’ kita. Pagi hari sebagian kita sudah berangkat mencari nafkah. Pulang malam hari. Begitu seterusnya. Berulang hingga menjadi rutinitas dan kebiasaan. Sebagian berdalih bahwa ini adalah tuntutan. Ya, ini bisa kita pahami, sebab di negeri pra sejahtera ini memang sulit mencari uang. Tapi, haruskah hidup kita diatur oleh uang. Walau segala sesuatunya memang membuhkan uang. Padahal, kebutuhan keluarga kita, terutama anak-anak kita bukan Cuma uang. Ada kebutuhan psikologis yang dibutuhkan saat anak kita dalam masa tumbuh kembang. Saat mereka membutuhkan partner, pendamping dalam perkembangannya, mereka membutuhkan sosok kita sebagai ayah sebagai mentor terbaiknya.
Sangat jarang saat ini, kita menjumpai kehangatan-kehangatan yang terbangun atau sengaja dibangun oleh sang Ayah kepada anak-anaknya. Kesibukan ‘mencari uang’ inilah yang membuat kita tak lagi dekat dengan keluarga kita, bahkan anak kita. Padahal, kita mencari uang untuk mereka. Untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Lalu pertanyaannya, apakah kesibukan yang sering kita atasnamakan untuk mereka harus mengorbankan tugas utama kita dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk menjadi ‘orang’.
Ada kisah menarik yang patut kita –para ayah renungi, sebuah suasana kehangatan yang sangat sulit ditemui sekarang ini. Kisah ini dituangkan oleh seorang professor pendidikan dari Amerika yang bernama F.Buscaglia. Ia menceritakan Kenangan indahnya bersama Ayah nya dalam buku Papa My Father. Berikut kisahnya:
Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada dalam pergantian abad. Pada Masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta. Sementara ayah hanyalah seorang anak petani miskin. Ayah putus sekolah saat berada di kelas 5 SD.Beliau berhenti sekolah diikuti protes dari gurunya. Setelah itu, ayah bekerja di sebuah pabrik. Sejak saat itulah kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
Hasrat yang besar untuk untuk belajar (bersambung dulu yaa sudah masuk waktu shalat ashar....)
Sangat jarang saat ini, kita menjumpai kehangatan-kehangatan yang terbangun atau sengaja dibangun oleh sang Ayah kepada anak-anaknya. Kesibukan ‘mencari uang’ inilah yang membuat kita tak lagi dekat dengan keluarga kita, bahkan anak kita. Padahal, kita mencari uang untuk mereka. Untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Lalu pertanyaannya, apakah kesibukan yang sering kita atasnamakan untuk mereka harus mengorbankan tugas utama kita dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk menjadi ‘orang’.
Ada kisah menarik yang patut kita –para ayah renungi, sebuah suasana kehangatan yang sangat sulit ditemui sekarang ini. Kisah ini dituangkan oleh seorang professor pendidikan dari Amerika yang bernama F.Buscaglia. Ia menceritakan Kenangan indahnya bersama Ayah nya dalam buku Papa My Father. Berikut kisahnya:
Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada dalam pergantian abad. Pada Masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta. Sementara ayah hanyalah seorang anak petani miskin. Ayah putus sekolah saat berada di kelas 5 SD.Beliau berhenti sekolah diikuti protes dari gurunya. Setelah itu, ayah bekerja di sebuah pabrik. Sejak saat itulah kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
Hasrat yang besar untuk untuk belajar (bersambung dulu yaa sudah masuk waktu shalat ashar....)
Hidup di kota besar seperti di Jakarta, bagi sebagian kita sungguh seperti dikejar-kejar. Waktu seperti ‘meneror’ kita. Pagi hari sebagian kita sudah berangkat mencari nafkah. Pulang malam hari. Begitu seterusnya. Berulang hingga menjadi rutinitas dan kebiasaan. Sebagian berdalih bahwa ini adalah tuntutan. Ya, ini bisa kita pahami, sebab di negeri pra sejahtera ini memang sulit mencari uang. Tapi, haruskah hidup kita diatur oleh uang. Walau segala sesuatunya memang membuhkan uang. Padahal, kebutuhan keluarga kita, terutama anak-anak kita bukan Cuma uang. Ada kebutuhan psikologis yang dibutuhkan saat anak kita dalam masa tumbuh kembang. Saat mereka membutuhkan partner, pendamping dalam perkembangannya, mereka membutuhkan sosok kita sebagai ayah sebagai mentor terbaiknya.
Sangat jarang saat ini, kita menjumpai kehangatan-kehangatan yang terbangun atau sengaja dibangun oleh sang Ayah kepada anak-anaknya. Kesibukan ‘mencari uang’ inilah yang membuat kita tak lagi dekat dengan keluarga kita, bahkan anak kita. Padahal, kita mencari uang untuk mereka. Untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Lalu pertanyaannya, apakah kesibukan yang sering kita atasnamakan untuk mereka harus mengorbankan tugas utama kita dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk menjadi ‘orang’.
Ada kisah menarik yang patut kita –para ayah renungi, sebuah suasana kehangatan yang sangat sulit ditemui sekarang ini. Kisah ini dituangkan oleh seorang professor pendidikan dari Amerika yang bernama F.Buscaglia. Ia menceritakan Kenangan indahnya bersama Ayah nya dalam buku Papa My Father. Berikut kisahnya:
Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada dalam pergantian abad. Pada Masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta. Sementara ayah hanyalah seorang anak petani miskin. Ayah putus sekolah saat berada di kelas 5 SD.Beliau berhenti sekolah diikuti protes dari gurunya. Setelah itu, ayah bekerja di sebuah pabrik. Sejak saat itulah kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
Hasrat yang besar untuk untuk
Sangat jarang saat ini, kita menjumpai kehangatan-kehangatan yang terbangun atau sengaja dibangun oleh sang Ayah kepada anak-anaknya. Kesibukan ‘mencari uang’ inilah yang membuat kita tak lagi dekat dengan keluarga kita, bahkan anak kita. Padahal, kita mencari uang untuk mereka. Untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Lalu pertanyaannya, apakah kesibukan yang sering kita atasnamakan untuk mereka harus mengorbankan tugas utama kita dalam mendampingi tumbuh kembang mereka untuk menjadi ‘orang’.
Ada kisah menarik yang patut kita –para ayah renungi, sebuah suasana kehangatan yang sangat sulit ditemui sekarang ini. Kisah ini dituangkan oleh seorang professor pendidikan dari Amerika yang bernama F.Buscaglia. Ia menceritakan Kenangan indahnya bersama Ayah nya dalam buku Papa My Father. Berikut kisahnya:
Ketika ayah mulai tumbuh dewasa, dunia sedang berada dalam pergantian abad. Pada Masa krisis semacam itu, pendidikan hanya milik mereka yang berharta. Sementara ayah hanyalah seorang anak petani miskin. Ayah putus sekolah saat berada di kelas 5 SD.Beliau berhenti sekolah diikuti protes dari gurunya. Setelah itu, ayah bekerja di sebuah pabrik. Sejak saat itulah kehidupan menjadi sekolah dan tempat belajarnya.
Hasrat yang besar untuk untuk
Langganan:
Postingan (Atom)